Sabtu, 24 Desember 2011

Bab 1 Penduduk, Masyarakat dan kebudayaan

Penduduk, dalam pengertian luas diartikan sebagai kelompok organisme sejenis yang berkembang biak dalam suatu daerah tetentu. Dalam kesempatan ini penduduk digunakan dalam pengertian orang-orang yang mendiami wilayah tertentu, menetap dalam suatu wilayah, tumbuh dan berkembang dalam wilayah tertentu pula.
Adapun masyarakat adalah suatu kesatuan kehidupan sosial manusia yang menempati wilayah tertentu, yang keteraturannya dalam kehidupan sosialnya telah dimungkinkan karena memiliki pranata sosial yang telah menjadi tradisi dan mengatur kehidupannya. Tekanannya disini terletak pada adanya pranata sosia, tanpa pranata sosial kehidupan bersama didalam masyarakat tidak mungkin dilakukan secara teratur. Pranata sosial disini dimaksudkan sebagai perangkat peraturan yang mengatur peranan serta hubungan antar anggota masyarakat, baik secara perseorangan maupun secara kelompok.
Kebudayaan merupakan hasil budi daya manusia, ada yang mendefinisikan sebagai semua hasil karya, rasa dan cipta masyarakat. Karya manusia menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, sedangkan rasa mewujudkan segala norma dan nilai untuk mengatur kehidupan dan selanjutna cipta merupakan kemampuan berpikir kemampuan mental yang menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan (selo sumarjan dan sulaiman..s)

PENDUDUK DAN PERMASALAHANNYA
Orang yang pertama mengemukakan teori mengenai penduduk ialah “Thomas Robert Malthus. Dalam edisi pertamanya “Essay Population “ tahun 1798. Malthus mengemukakan adanya dua persoalan pokok, yaitu bahwa bahan makanan adalah penting utnuk kehidupan manusia dan nafsu manusia tidak dapat ditahan. Bertitik tolak dari hal itu teori Malthus yang sangat terkenal yaitu bahwa berlipat gandanya penduduk itu menurut deret ukur, sedangkan berlipat gandanya bahan makanan menurut deret hitung, sehingga pada suatu saat akan timbul persoalan-persoalan yang berhubungan dengan penduduk.
Disamping itu ada juga yang berpendapat bahwa manusia itu dalam kehidupannya terkait dengan alam atau daerah dimana mereka hidup. Oleh karena itu penduduk dunia itu bertambah karena kelahiran lebih besar dari kematian, sehingga tingkat kelahiran lebih besar dari tingkat kematian. Ini disebabkan karena manusia sebagai mahluk hidup akan selalu berusaha agar mempunyai keturunan dan memperjuangkan hidupnya untuk dapat hidup panjang (berumur panjang) dan ini sering dikenal dengan teori alam tentang pertumbuhan penduduk.

DINAMIKA PENDUDUK
Dinamika penduduk menunjukkan adanya factor perubahan dalam hal jumlah penduduk yang disebabkan oleh adanya pertumbuhan penduduk. Penduduk bertambah tidak lain karena adanya unsurr lahir, mati, datang dan pergi dari penduduk itu sendiri. Karena keempat unsur tersebut maka pertambahan penduduk dapat dihutung dengan cara : pertambahan penduduk = ( lahir – mati) + ( datang – pergi ). Pertambahan penduduk alami karena diperoleh dari selisih kelahiran dan kematian . Unsur penentu dalam pertambahan penduduk adalah tingkat fertilitas dan mortalitas.
Fertilitas adalah tingkat pertambahan anak yang dihitung dari jumlah kelahiran setiap seribu penduduk dalam satu tahun. Tingkat kelahiran yang dihitung dari kelahiran perseribu penduduk dalam satu tahun merupakan kelahiran secara kasar, sering disebut Crude birth Rate (CBR). Faktor kedua mempengaruhi pertumbuhan penduduk ialah mortalitas atau tingkat kematian secara kasar disebut Crude Date Rate (CDR), yaitu jumlah kematian pertahun perseribu penduduk.
KOMPOSISI PENDUDUK
Komposisi penduduk suatu Negara dapat dibagi menurut komposisi tertentu, misalnya komposisi penduduk menurut umur, menurut tingkat pendidikan, menurut pekerjaan dan sebagainya.
Dengan mengetahui komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin, dapta disusun/dibuat apa yang disebut piramida penduduk, yaitu grafik susunan penduduk menurut umur dan jenis kelamin pada saat tertentu dalam bentuk pyramid. Golongan laki-laki ada diseblah kiri dan perempuan disebelah kanan. Garis aksisnya (vertical) menunjukkan interval umur dan gari horisontalnya menunjukna jumlah atau prosentasi..
Berdasarkan komposisinya piramida penduduk dibedakan atas :
- Penduduk muda yaitu penduduk dalam pertumbuhan, alasannya lebih besar dan ujungnya runcing, jumlah kelahiran lebih besar dari jumlah kematian
- Bentuk piramida stasioner, disini keadaan penduduk usia muda, usia dewasa dan lanjut usia seimbang, pyramid penduduk stasioner ini merupakan idealnya keadaan penduduk suatu Negara
- Piramida penduduk tua, yaitu piramida pendduk yang menggambarkan penduduk dalam kemunduran, pyramid ini menunjukkan bahwa penduduk usia muda jumlanya lebih kecil dibandingkan dengan penduduk dewasa.

PERSEBARAN PENDUDUK
Kecenderungan manusia untuk memilih daerah yang subur untuk tempat tinggalnya, terjadi sejak pola hidup masih sangat sederhana. Daerah semacam inilah yang kemudian berkembang menjadi daerah perkotaan, daerah tempat pemerintahan, daerah perdagangan dan sebagainya.. prinsip tempat tinggal mendekati tempat bekerja yang secara langsung atau tidak, menimbulkan ketidakseimbangan penduduk ditiap-tiap daerah. Sehingga terjadi daerah yang berpenduduk padat. Dari prinsip itulah kemudian terjadi perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain.

PERKEMBANGAN DAN PERUBAHAN KEBUDAYAAN
Kebudayaan itu merupakan keseluruhan ari pengetahuan manusia sebagai mahluk sosial, yang digunakan untuk menginterpretasikan dan memahami lingkungan yang dihadapi, untuk memenuhi segala kebutuhannya serta mendorong terwujudnya kelakuan manusia itu sendiri.Atas dadar itulah para ahli mengemukakan adanya unsure kebudayaan yang umumnya diperinci menjadi 7 unsur yaitu :
  1. unsur religi
  2. sistem kemasyarakatan
  3. sistem peralatan
  4. sistem mata pencaharian hidup
  5. sistem bahasa
  6. sistem pengetahuan
  7. seni
Bertitik tilah dari sistem inilah maka kebudayaan paling sedikit memiliki 3 wujud antara lain :
  1. wujud sebagai suatu kompleks dari ide, gagasan, norma, peraturan dan sejenisnya. Ini merupakan wujud ideal kebudayaan. Sifatnya abstrak, lokasinya aa dalam pikiran masyarakat dimana kebudayaan itu hidup
  2. kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat
  3. kebudayaan sebagai benda hasil karya manusia

KEBUDAYAAN DAN KEPRIBADIAN
Berbagai penelitian antropologi budaya menunjukkan, bahwa terdapat korelasi diantara corak-corak kebudayaan dengan corak-corak kepribadian anggota-anggota masyarakat, secara garis besar. Opini umum juga menyatakan bahwa kebudayaan suatu bangsa adalah cermin dari kepribadian bangsa yang bersangkutan. Kalau begitu pada sisi mana kebudayaandapat memberi pengaruh terhadap suatu kepribadian ? jawabnya kita melihat dari sikap pemilik kebudayaan itu sendiri. Manakalai pemilik kebudyaan itua menganggap bahwa segala sesuatu yang terangklum dan terlebur dalam segala materi kebudayaan itu sebagai sesuatu yang logis, normal, serasi, dan selaras dengan kodrat alam dan tabiat asasi manusia dan sebagainya. setiap masayrakat mempunyai sistem nilai dan sistem kaidah sebagai konkretisasinya. Nilai dan sistem kaidah berisikan harapan-harapan masyarakat, perihal perilaku yang pantas. suatu kaidah misalnya kaidah hukum memberikan batas-batas pada perilaku seseorang. batas-batas tersebut menjadi suatau ”aturan permainan” dalam pergaulan hidup.
Sebaliknya segala yang berbeda dari corak kebudayaan mereka, dianggap rendah, aneh, kurang susila, bertentagnan degnan kodrat alam, dan sebagainya.

PRANATA SOSIAL DAN INSTITUSIONALISASI
Untuk menjaga agar hubungan antar anggota masyarakat dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan, maka didalam masyarakat dibedakan adanya : cara atau “usage” kelaziman (kebiasaan) atau “folkways”; tata kelakuan atau “mores”, dan adapt istiadat “costom”. Disamping norma-norma yang tidak tertulis dan bersifat informal ini, ada juga norma yang sengaja diciptakan secara formal dalam bentuk peraturan – peraturan hukum. Setiap norma, baik usage, folkways,costom ataupun peraturan hokum yang tertulis, mengikat setiap anggota untuk mematuhinya, hanya saja kekuatan pengikatnya berbeda.
Norma-norma tersebut setelah mengalami proses tertentu pada akhirnya akan menjadi bagian tertentu dari lembaga kemasyarakatan. Proses tersebut dinamakan proses institusionalisasi, yaitu suat proses yang dilewati oleh norma kemasyarakatan yang baru untuk menjadi bagian dari salah satu lembaga kemasyarakatan, sehingga norma tersebut oleh masyarakt diterima, dihargai, dan kemudian ditaati dan dipatuhi dalam mengatur kehidupan sehai-hari.
Dr. Koentjaraningrat membagi lembaga sosial/pranata-pranata kemasyarakatan menjadi 8 macam yaitu :
  1. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan kehidupan kekerabatan atau domestic institutions
  2. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mata pencaharian hidup ( economic institutions)
  3. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah manusia (scientific institution)
  4. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan pendidikan (educational institutions)
  5. Pranata yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan ilmiah, menyatakan rasa keindahan dan rekreasi (aesthetic anda recreational institutions)
  6. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk berhubungan dengan Tuhan atau alam gaib (religius institutions)
  7. Pranata yang bertujuan memenuhi kebutuhan manusia untuk mengatur kehidupan berkelompok atau bernegara (political institutios)
  8. Pranata yang bertujuan mengurus kebutuhan jasmaniah manusia (cosmetic institutions)

Kamis, 31 Maret 2011

ANALISA FILM KEKERASAN DALAM BERPACARAN

Jaka dan Mawar adalah sepasang muda dan mudi yang sedang menjalin kisah cinta. Keduanya saling mencintai, hanya saja sifat Jaka yang tempramental tidak begitu disukai oleh Mawar. Sifat Jaka ini timbul di karenakan Ayahnya sering mencontohkan kekerasan dalam menyelesaikan permasalahan keluarga. Dan sikap keras Ayahnya inilah yang terekam di memori otak Jaka sejak kecil hingga dewasa seperti ini.

Hari-demi hari delewati Mawar dengan kegelisahan dan rasa tersiksa yang sangat mendalam. Mungkin hanya cinta yang membuat Mawar tetap bersikeras untuk mempertahankan hubungan asmaranya dengan Jaka, walaupun fisik Mawar sudah terluka. Yah, cinta memang buta, dapat membutakan perasaan walaupun sebenarnya dalam batin Mawar itu sangat menyakitkan.

Sampai di suatu titik dimana Mawar merasakan nyawanya sudah terancam, ia baru berani untuk mengatakan pada Jaka bahwa hubungan ini tidak perlu dipertahankan lagi. Sebenarnya kejadian yang dialami Mawar bisa di hindari asalkan mau terbuka kepada Orang tua. Sehingga Mawar tidak perlu merasa sendirian ketika menghadapi kekerasan yang sedang menimpanya selama berpacaran dengan Jaka. Karena Orang tua yang baik pasti akan melindungi anaknya dengan sepenuh hati.

Hidupku (Manusia dan Harapan)

Semua orang pasti punya impian, cita-cita dan harapan….yah mungkin itu adalah salah satu motivasi kita untuk hidup lebih baik lagi, selain tentunya banyak hal lain yang menjadi motivasi kita. Harapan mungkin hanya hal kecil dan tidak nyata jika kita tidak berusaha untuk mewujudkannya, namun ketika kita berhasil mewujudkannya maka akan ada rasa puas dan bangga akan diri sendiri.
Harapan itu ada biasanya karena kita menginginkan perubahan dalam hidup, berubah dalam arti yang lebih baik tentunya. Dengan harapan bisa membuat hidup kita punya arah, punya tujuan. Oleh karena itu harapan tidak boleh padam, jika apa yang kita harapkan belum bisa terwujud jangan jadikan alasan untuk berputus asa. Karena segala hal itu ada hikmahnya. Coba tengok saja ke belakang sebentar kenapa harapan kita tidak menjadi kenyataan, mungkin karena usaha kita kurang maksimal, mungkin kurang berdoa kepada Allah, atau mungkin jalan yang kita tempuh tidak benar.
Tetaplah berpikir positif, mungkin Allah sedang menguji kita atau mungkin itu bukan yang terbaik buat kita karena Allah lebih tahu apa yang terbaik buat kita. Dan jangan terpaku pada hasil, jika hasilnya tidak sesuai, setidaknya dengan proses yang sudah kita lalui memberikan kita banyak pelajaran untuk kita menjadi pribadi yang lebih kaya (bukan berarti kaya banyak uang lho ya…).
Jadikan harapan itu sebagai kekuatan dan motivasi untuk kita menjadi pribadi yang lebih baik, yang bisa bermanfaat untuk diri sendiri dan sesama. Karena harapan bukan hanya sekedar lamunan, harapan adalah sebuah kekuatan.

Phobia (Manusia dan Kegelisahan)

Aku mempunyai seorang sepupu yang takutnya minta ampun pada cacing. Melihat cacing di TV aja bisa membuat dia mau muntah, menginjak cacing bisa membuat dia melompat tinggi keatas pohon sambil menangis dan teriak-teriak. Sepupu-ku ini ternyata mengalami Vermiphobia, phobia pada cacing.

Sebenarnya apakah phobia itu? Phobia adalah ketakutan yang berlebih-lebihan terhadap benda-benda atau situasi-situasi tertentu yang seringkali tidak beralasan dan tidak berdasar pada kenyataan.

Apa yang menyebabkan phobia? Phobia dapat disebabkan oleh berbagai macam hal. Pada umumnyaphobia disebabkan karena pernah mengalami ketakutan yang hebat atau pengalaman pribadi yang disertai perasaan malu atau bersalah yang semuanya kemudian ditekan kedalam alam bawah sadar. Peristiwa traumatis di masa kecil dianggap sebagai salah satu kemungkinan penyebab terjadinyaphobia.

Lalu bagaimana menjelaskan tentang orang yang takut akan sesuatu walaupun tidak pernah mengalami trauma pada masa kecilnya? Martin Seligman di dalam teorinya yang dikenal dengan istilah biological preparedness mengatakan ketakutan yang menjangkiti tergantung dari relevansinya sang stimulus terhadap nenek moyang atau sejarah evolusi manusia, atau dengan kata lain ketakutan tersebut disebabkan oleh faktor keturunan. Misalnya, mereka yang takut kepada beruang, nenek moyangnya pada waktu masih hidup di dalam gua, pernah diterkam dan hampir dimakan beruang, tapi selamat, sehingga dapat menghasilkan kita sebagai keturunannya. Seligman berkata bahwa kita sudah disiapkan oleh sejarah evolusi kita untuk takut terhadap sesuatu yang dapat mengancam survival kita.

Earth Day (Manusia dan Tanggung Jawab)

Anak TK Saja Peduli Hari Bumi

Lebih seratus siswa taman kanak-kanak mengikuti karnaval Hari Bumi di Medan, Sumatra Utara, Sabtu (23/4). Mereka memeriahkan peringatan 22 April dengan berbagai perlombaan.
Karnaval Hari Bumi diiringi marching band. Ratusan pelajar mengelilingi jalan protokol Iskandar Muda menuju Lapangan Gajah Mada di Jalan Gajah. Siswa-siswi berdandan dengan berbagai aksesori. Memanfaatkan dedaunan dan pakaian ala binatang, mereka menyimbolkan kecintaan akan alam.
Dengan semangat siswa mengikuti senam kesehatan. Selanjutnya mereka berkompetisi memisahkan sampah organik dengan sampah nonorganik.
Jenni Lusia, panitia, mengaku kegiatan sengaja melibatkan anak-anak. Karena merekalah generasi penerus bangsa. Kepada anak-anak akan ditanamkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

seharusnya ini menjadi tanggung jawab kita semua sebagai penduduk Bumi, bumi yang semakin hari semakin tua, kalau bukan kita yang menjaga siapa lagi, marilah kita bersama-sama sebagai penduduk buumi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan kita, agar kita semua bisa menikmatinya dan juga untuk anak cucu kita kedepannya, karena bumi merupakan warisan yang paling berharga.

Kamis, 17 Maret 2011

Pandangan Hidup Orang Sunda (Manusia dan Pandangan Hidup)

Dalam Ensiklopedi Sunda (2000) disebutkan bahwa pandangan hidup orang Sunda itu terbagi kepada tiga bagian. Bagian pertama tecermin dalam tradisi lisan dan sastra Sunda yang berasal dari kalangan lapisan atas (elite). Penelitian yang dilakukan oleh Soewarsih Warnaen dkk. (1987) ini meneliti, 79 ungkapan dalam bahasa Sunda dan 20 dalam bahasa Cirebon, Carita Pantun Lutung Kasarung edisi F. F. Eringa dalam disertasinya, (1949), naskah Sanghyang Siksa Kandang Karesian, Sawer Panganten dan dua roman R. Memed Sastradiprawira yaitu Mantri Jero (1928), dan Pangeran Kornel (1930).

Hasilnya disimpulkan bahwa pandangan hidup orang Sunda itu terdiri atas: (1) manusia sebagai pribadi; (2) manusia dengan masyarakat; (3) manusia dengan alam; (4) manusia dengan Tuhan; dan (5) manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kepuasan batin. Penelitian ini sampai pada adanya dua pandangan, yaitu yang pertama, pandangan yang membagi manusia menjadi dua golongan ialah golongan penguasa dan golongan rakyat, sedangkan yang kedua, tidak membedakan apakah seseorang itu termasuk penguasa ataukah bukan sehingga berlaku umum.

Pada penelitian kedua, pandangan hidup orang Sunda tecermin dalam tradisi lisan dan sastra Sunda. Penelitian berikutnya, yang berarti tahap kedua, dilakukan oleh Suwarsih Warnaen dkk. (Bandung, 1987). Berlainan dengan penelitian pertama yang terutama dipusatkan kepada tradisi lisan dan karya sastra yang berasal dari kalangan lapisan atas (elite), penelitian ini mengambil bahan lisan dan karya lapisan bawah (somahan), yaitu yang berupa uga, adat-istiadat, cerita rakyat (yang sudah dibukukan) dan tiga buah novel (Rasiah Nu Goreng Patut karya Yuhana, Lain Eta karya Moh. Ambiri dan Mayit Dina Dahan Jengkol karya Ahmad Bakri).

Dari analisis terhadap bahan-bahan yang diteliti itu dapat diidentifikasikan sejumlah sifat khas yang dianggap baik dan tidak baik oleh orang Sunda. Semuanya digolongkan kepada empat kategori besar, yaitu (1) akal; (2) budi; (3) semangat; dan (4) tingkah laku.

Dalam kategori akal yang dianggap baik ialah sifat-sifat pintar, pandai, cerdas, cerdik, arif, berpengalaman luas, dan menjunjung tinggi kebenaran, sedangkan yang tidak baik adalah bodoh, banyak bingung, suka bohong, membenarkan yang bohong, pandai membohongi orang, dan terlalu benar (dalam pengertian tidak surti). Dalam kategori budi ada 31 macam sifat yang baik, antara lain jujur, suci, punya pendirian, takwa, tidak takabur, siger tengah (tidak ekstrem), bageur(orang baik), bijaksana, berjiwa kerakyatan, punya rasa malu, taat pada orang tua, punya harga diri, setia, bisa dipercaya, dll. Sementara sifat yang tidak baik antara lain, pendendam, tidak berperasaan, tidak punya rasa malu, tidak tahu berterima kasih, dan takabur.

Dalam kategori semangat, sifat yang dipandang baik ada 18 macam, antara lain punya idealisme, sabar, percaya kepada takdir, tabah, punya semangat belajar, mau berikhtiar, rajin, lebih baik mati daripada hidup hina, berani, bersifat satria, ulet, tahan godaan, khusuk dalam berdoa, sedangkan yang dianggap tidak baik, antara lain merasa tidak berdaya, menyiksa diri sendiri, pengecut, penakut, serakah, dan menyalahgunakan kedudukan.

Dalam kategori tingkah laku, sifat yang dianggap baik ada 38 macam, antara lain, sederhana, matang perhitungan, suka menolong, sopan, waspada, teliti, tahu diri, ramah, tidak licik, menepati janji, hemat, tidak banyak bicara, punya keterampilan, dan lain-lain. Sementara sifat yang tidak baik ada 59 macam, antara lain, suka menonjolkan diri, sombong, berpakaian berlebihan, malas, tidak mau berusaha, suka bertengkar, suka mencuri, dengki, menipu, licik, pencemburu, dijajah materi, cerewet, bicara sembarangan, usilan terhadap orang lain, suka menasihati orang lain, tidak menghargai orang lain, selingkuh, boros, dan lain-lain.

Peneliti pun mengidentifikasikan pandangan hidup orang Sunda tentang hubungan manusia dengan masyarakat (pergaulan antarjenis, pergaulan dalam lingkungan keluarga dalam masyarakat luas). Tentang hubungan manusia dengan alam (alam nyata, dan alam gaib) diidentifikasikan bahwa orang Sunda memandang lingkungan hidupnya bukan sebagai sesuatu yang harus ditundukkan, melainkan harus dihormati, diakrabi, dipelihara, dan dirawat. Sementara tentang manusia dengan Tuhan (menurut uga dan menurut adat istiadat) dapat diidentifikasikan bahwa meskipun sekarang umumnya memeluk agama Islam, masih banyak kepercayaan pra-Islam yang masih menjadi pegangan walaupun hasil analisis data menyimpulkan bahwa orang Sunda amat mengakui akan kekuasaan Tuhan.

Pada penelitian ketiga, pandangan hidup orang Sunda tercermin dalam kehidupan masyarakat Sunda dewasa ini. Penelitian tahap ketiga ini dilakukan oleh Yus Rusyana dkk. (Bandung, 1989). Berlainan dengan dua penelitian sebelumnya, penelitian tahap ketiga ini dilakukan dengan mengadakan kuesioner terhadap orang Sunda di enam wilayah, yaitu 4 wilayah pedesaan (Sukabumi, Sumedang, Garut dan Tasikmalaya) dan 3 wilayah kota (Cianjur, Sumedang, Bandung). Pertanyaan yang diajukan berdasarkan hasil penelitian sebelumnya berkenaan dengan pandangan orang Sunda mengenai, (1) manusia sebagai pribadi, (2) manusia dengan Tuhan; (3) manusia dengan alam; dan (4) tentang mengejar kemajuan lahir dan kepuasaan batin.

Untuk mengetahui apakah terjadi pergeseran atau tidak terhadapnya, hasil angket itu ternyata menunjukkan bahwa pada umumnya terjadi pergeseran dalam setiap aspek yang ditanyakan. Akan tetapi tidak terjadi perubahan yang besar. Pandangan hidup berkenaan dengan manusia sebagai pribadi, dan dalam hubungannya dengan Tuhan dan manusia dalam mengejar kemajuan lahir dan kepuasan batin, dapat dikatakan tetap. Perubahan terjadi pada aspek manusia dengan alam dan manusia dengan masyarakat, tetapi itu pun tidak sama dalam semua hal, tergantung wilayah dan aspeknya. Tak tampak perbedaan yang mencolok antara pandangan hidup orang Sunda dewasa ini. Dengan tetap berakar pada tradisinya, telah dan sedang mengalami pergeseran dan perubahan itu, perubahan mengarah kepada pandangan yang lebih waspada, lebih bertauhid dalam beragama, lebih realistis dalam bermasyarakat dan lebih memahami aturan alam (Ensiklopedi Sunda, 2000).

Hukum & Keadilan Milik Siapa (manusia dan keadilan)

Fitnah telah terjadi dimana-mana. Ngerumpi dan gosip menjadi bunga-bunga kehidupan sebagian besar masyarakat. Pihak yang kuat makan yang lemah, yang kaya menindas yang miskin. Kata-kata kotor sudah menjadi hiasan bibir warga terhormat.

Kini ketenangan telah terusik dan terkikis oleh kejutan demi kejutan yang terjadi tiap hari seolah sudah menjadi sebuah kewajaran. Telah tiada lagi nuansa adem-ayem, karena dihapus oleh hingar bingar. Seolah tersirat disini segalanya mungkin terjadi, tidak ada yang mustahil.

Bahkan dianggap wajar-wajar saja bila seseorang yang kemarin dianggap sebagai pecundang kini menjadi pahlawan. Warna-warni pun berubah-ubah. Warna yang hitam pun bisa disebut putih, yang biru disebut merah dan seterusnya.

Negeri Indonesia yang elok ini pernah bangga dengan nyanyian “nyiur melambai” dan “nenek moyangku orang pelaut”. Sejauh-jauh mata memandang yang terlihat di daratan adalah hamparan pohon kelapa nan hijau, sedangkan yang terlihat di lautan adalah warna biru jernih sejernih langit. Seribu satu macam ikan menghiasi lautan di negeri ini.

Allah SWT telah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr[59]:18)

Hari ini harus lebih baik daripada kemarin. Karena jika hari ini sama dengan hari kemarin berarti kita tergolong orang yang merugi. Jika hari ini lebih buruk daripada hari kemarin berarti kita tergolong orang yang dzolim

Aneka peristiwa telah terjadi di kalangan masyarakat jelata, antara lain:

  • Mbah Klijo Sumarto dituduh mencuri satu tandan pisang klutuk terancam 5 tahun penjara.
  • Empat warga desa di Jawa Tengah dituduh mencuri kapuk randu, mereka ini juga terancam 5 tahun penjara.
  • Mbah Minah petani di Kabupaten Banyumas dihukum percobaan 1 bulan 15 hari karena mencuri 3 buah kakao.

Bagi warga kaya seperti Artalyta, si penyuap, rumah tahanan bukan tempat untuk memberikan efek jera. Rumah Tahanan Pondok Bambu tidak berarti apa-apa baginya. Dia mampu membayar berapapun untuk mengubah penjara menjadi istana mewah. Sebab bagi dia “bui-ti jannati” (bui/penjara ku = surgaku).

Akhirnya rahasia Arthalyta Suryani (Ayin) terpidana kasus suap Rp 6 milyar terhadap Jaksa Urip Tri Gunawan, terhukum lima tahun penjara, tentang ruang tahanan mewahnya di Rutan Pondok Bambu tersingkap. Kini dia dipindahkan ke Lapas Wanita Tangerang. Dia menempati satu ruang bersama Darmawati Dareho, terpidana tiga tahun dalam perkara kasus suap kepada anggota DPR RI dan Aling kasus narkoba dengan hukuman penjara seumur hidup.

Sayang sekali bahwa hingar-bingar peristiwa telah membuat masyarakat awam tak tahu harus berbuat apa. Banyak yang cuek-cuek saja. Tapi juga banyak yang ikut-ikutan ribut, tak peduli benar atau salah. Mereka tak punya pegangan hidup. Mereka mengidolakan siapapun yang popular, misalnya; Anggodo, Miyabi, dan lain sebagainya.

Tolong dijawab milik siapakah hukum dan keadilan. Tidak mungkin kita hidup dalam keadaan seperti ini terus-menerus. Mari bangkit berjuang untuk mengubah keadaan ini.“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Mari kembali menyimak dan memahami peringatan Allah SWT, karena hidup ini bukan panggung sandiwara. Maka kembalilah pada jati diri kita sebagai umat Islam. Bersama kita merapatkan barisan, berhenti berpecah-belah. Kurangi bicara dan perbanyak berkarya.